ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Friday, May 20, 2011

belajar dari butir pasir

Rubrik PIA
Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian
ayat emas : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka (Pengkothbah 3:11b)
Cerita

Kisah Butir Pasir

Aku adalah butir pasir dari pantai, tentunya adik-adik pernah bermain ke pantai parangtritis bukan? Aku begitu kecil dan halus sekali, sehingga orang yang berjalan tanpa pakai alas kakipun tidak akan merasa sakit. Karena bentukku yang kecil dan halus tak jarang aku dapat diterbangkan oleh angin. Tetapi tahukan adik-adik kisah perjalananku hingga aku menjadi butiran pasir yang halus dan akhirnya bisa sampai di pantai Parangtritis? Teman-teman tahu adanya gunung Merapi yang menjulang tinggi di sebelah utara kota jogja? Ya, ketika gunung merapi lagi batuk-batuk dan mengeluarkan lava pijar, disertai dengan bongkahan batu-batu besar, batu ukuran sedang sampai yang kecil, aku juga ikut terbawa keluar. Waktu aku keluar tentu bentuknya masih tak beraturan, masih kasar dan ukurannyapun masih agak besar. Oleh aliran arus sungai yang jernih akupun mulai terbawa hanyut. Gesekan dengan dasar sungai, benturan sana-sini dengan batuan besar aku alami selama terbawa arus sungai. Terkadang aku juga dihempaskan sampai pinggir sungai. Di pinggir sungai tak jarang aku menunggu lama, bisa berhari-hari, berbulan-bulan dan panas teriknya matahari membuat sebagian badanku menjadi hancur. Sampai akhirnya air hujan dan banjir ikut membawaku kembali hanyut ke sungai dan terus melanjutkan perjalanan. Kusadari badanku semakin lama semakin terkikis oleh perjalanan yang kualami, dan itu aku terima. Air sungai yang awalnya jernih, semakin jauh aku menempuh perjalanan, kulihat air sungainya mulai keruh dan kotor akibat ulah manusia yang membuang sampah sembarangan, banyak limbah yang dibuang langsung ke sungai. Kesegaran dan kejernihan air yang dulunya menemani aku, kini aku ditemani dengan kotoran dan bau-bau yang tidak enak, dan kini badanku juga ikut menjadi kotor. Tak jarang pula aku berhenti lagi di pinggir sungai, melihat sebagian teman-temanku ikut terbawa oleh orang-orang yang lagi mencari pasir di sungai. Selama bertahun-tahun kutempuh perjalanan sampai akhirnya aku tiba di muara sungai dan akhirnya terbawa masuk ke dalam laut. Sudah cukup penderitaanku selama perjalanan yang begitu panjang ini sampai akhirnya aku berada di laut yang bebas. Tetapi ternyata tidak. Sampai di laut aku masih diombang ambingkan oleh ombak. Dihempaskan ke pinggir pantai, lalu ditarik lagi masuk ke dalam ombak begitu terus menerus dan berulang-ulang. Aku seperti dicuci oleh ombak laut, kotoran yang selama ini melekat didiriku semakin lama semakin berkurang dan badanku semakin halus. Ketika air laut surut aku terhempaskan jauh ke daratan pantai. Sinar matahari mengeringkan badanku. Karena bantuan angin pula aku bisa merayap, melocat bahkan bisa melayang menjauh dari laut. Dan sampai akhirnya aku bisa menetap dan berkumpul bersama teman-temanku menjadi bagian dari pasir di pantai Parangtritis.

Wah ternyata kisah perjalan si pasir dari parangtritis sangat panjang dan lama ya. Banyak pengorbanan yang dialami. Benturan, gesekan, panas terik matahari, hempasan gelombang telah dialami, hingga akhirnya bisa menjadi pasir yang sangat halus. Adik-adik yang saat ini masih belajar teruslah belajar yang giat. Pengorbanan yang kita lakukan seperti menahan diri untuk tidak bermain ketika lagi menghadapi ujian sekolah. Rela menahan diri untuk tidak membeli mainan dan jajanan ketika lagi membutuhkan buku-buku pelajaran yang baru, tentu akan kita ingat jika kelak kita menjadi orang yang sukses. Dari banyak hal yang kita lakukan tentunya kita serahkan kepada Tuhan Yesus, biarlah Dia yang menyertai segala hal yang kita alami baik pengalaman suka maupun duka kita juga tetap harus bersyukur atas penyertaanNya selama ini. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Sama seperti butiran pasir yang dulunya mengalami penderitaan, pengorbanan hingga akhirnya menjadi butiran pasir yang halus.
-siGal-

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti