ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Wednesday, June 8, 2011

Belajar dari pohon Benguk

Belajar dari pohon benguk.

ferd.wakidjan

“Nembe ndhangir taneman pak!” ( baru menyiangi tanaman pak) tanya seorang pemudi dengan ransel dipunggungnya kepada seorang petani di tanah pertanian kering di Wonogiri. “Nggih nak, menika kersanipun mawoh mangke.” ( Ya nak , ini biar berbuah nanti) jawab bapak tani. Ternyata bapak tani tersebut sedang marawat tanaman kacang benguknya. Tidak lama berselang , pemudi tadi terkaget-kaget, karena bapak tani mulai mamangkas beberapa pohon benguk yang subur satu nyari ( setebal jari) di atas tanah. Karena tidak masuk di akalnya, pemudi tadi yang masih dalam kekagetannya bertanya lagi. “ Lho pak tanemanipun kok malah dipun rit?” ( Lho pak tanamannya kok malah dipotong) sambil mendekat. Ternyata bukan hanya satu batang yang di”rit” ( dipotong dengan arit). Bapak tadi menjawab, dengan masih memegang batang beeguk yang habis dipotong, ” menika kersanipun noyani taneman sanesipun, margi sampun mangsa ketiga, mangke rak saget gesang sesarengan.” ( ini biar memberi air kepada tanaman lain, karenm asekatang sudah musim kemarau, nanti kan bisa hidup bersama).

Dari kejadian ini, pemudi baru paham maksud bapak tani. Larikan pohon benguk yang teratur di ladang, akhirnya beberapa batang yang tumbuh subur dipotong. Dari irisan batang benguk ternyata menetes getah( tlutuh) berupa air. Air ini mengucur sedikit demi sedikit membasahi tanah di kanan kirinya. Dari kucuran air ini, lahan yang kering sedikit demi sedikit menjadi lebih basah. Air kucuran inilah yang menjadikan pohon-pohon benguk yang lain tetap bisa tumbuh di musim kemarau. Pak tani setiap pagi menengok tanaman benguk. Hari –hari berselang tumbuh bunga dan akhirnya berbuah. Ini artinya tinggal menunggu tua, dan panenlah pak tani.

Sampai di rumahnya yang sederhana di Yogyakarta, pemudi hitam manis ini merenung. Beraneka ragam pikiran muncul di angan-angannya. Akhirnya ketemulah makna kejadian di lahan Wonogiri tadi. Menurutnya ada yang baru dari kejadian itu. Pohon benguk kok bisa menolong sesama. Pohon benguk kok rela mati untuk sesamanya. Akhirnya ditarik simpulan :” Dalam keadaan sulit, manusia harus ada yang rela mengorbankan diri.” ” Seperti pohon benguk di daerah kering, di musim kemarau, ada yang rela dipotong , mati untuk sesamanya.”
Mak supaya sebuah organisasi bisa hidup maju dan berbuah, harus ada anggotanya yang rela berkorban. Ternyata pikirannya, menerawang ke atas;
” O iya ya, Tuhan Yesus saja rela wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia”. Pikirannya tidak ber henti di situ, masih memikirkan apa yang bisa diperbuat. Tidak tahu bagaimana asal mulanya, pemudi ini sampai sekarang bergelut dengan anak-anak jalanan. Wira wiri ke beberapa rumah singgah untuk mendampingi anak-anak yang kurang beruntung. Sekali waktu ia tidak bisa hadir di kantor tepat waktu, dan dari sana telepon,” Nyuwun pangapunten kula nembe nenggani lare rumah tinggal operasi usus buntu wonten griya sakit pralila, kula telat.” ( Maaf saya baru menunggui anak rumah tinggal opersi usus buntu di rumah sakit manti saya terlambat).
Maaf mbak pengalamanmu saya tulis untuk sesama.

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti