ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Thursday, June 9, 2011

Penjual jamu dan penjual jenang

penjual jamu melayani pembeli
"Penjual jamu dan penjual jenang"

"Jamu...jamu...jamune bu.., mbak jamune mboten...?" suara yang memecah pagi menjelang siang. Suara seorang ibu yang menjajakan jamunya. Ada beberapa pelanggan yang selalu rutin beli jamunya. Dengan naik sepeda, jamu diletakan di belakang. Botol-botol dari bekas air mineral di isi dengan berbagai macam jamu. Ada jamu kunir asem, beras kencur, godhong telo, paitan dsb. Biasanya ibu tadi menjajakan jamunnya sekitar pukul 9 pagi.
Menjelang sore hari sekitar pukul 3. Terdengar suara "jenang...jenang...jenange bu...jenange mbak..." seorang ibu menjajakan jualannya sambil menuntun sepeda keliling kampung. Jenang yang dijajakan berupa jenang sumsum, dengan monthe dan juruh gula merah. Dengan uang seribu, penjual itu tetap melayani setiap pembeli yang datang.
Begitulah setiap hari berbagai macam penjual lewat di rumahku, salah satunya penjual jamu di pagi hari dan penjual jenang di sore hari. Aku baru sadar ketika sore hari ada pembeli yang beli jenang sambil menanyakan, "lho mbak, tadi pagi gak jualan jamu po mbak?"" "Jualan kuq...lha mbak é, tadi dipanggil-panggil tidak keluar. Saya kira pergi." jawab ibu penjual jenang. Baru detik itu aku sadar bahwa ternyata penjual jamu dan jenang itu orangnya sama. Karena selama ini aku hanya dengar suaranya saja yang tiap pagi dan sore, tanpa memperhatikan detail orang yang jualan. Maklum juga karena aku jarang beli hehehe. Lalu aku berpikir kalau pagi jualan jamu dan sore hari jualan jenang wah tentu capek sekali. Pagi-pagi sekali udah buat jamu. Pulang dari jualan jamu, buat jenang. Belum lagi keliling dari kampung ke kampung buat menjajakan jualannya pagi dan sore. Pulang malam hari, lalu bersih-bersih tempat jenang. Dan persiapan buat bikin jamu. Wah...gak kebayang capeknya. Pernah ada orang yang bertanya kepada ibu yang jualan jamu dan jenang itu. "Lha mbak e ora kesel po, esuk dodolan jamu, sore ne dodolan jenang?" Lalu aku masih ingat jawaban ibunya tadi. "Lha nek ra ngono, ra cukup dienggo 'urip' je..."
-siGal-

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti