ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Tuesday, July 26, 2011

Maling teriak maling di kampung maling

Ada sebuah kampung namanya kampung maling. Seisi kampung semuanya berprofesi sebagai maling. Gapura yang berdiri kokoh tanda mau masuk kampung didapat juga dari hasil jerih payah maling. Untuk melengkapi agar terlihat seperti kampung pada umumnya juga dibuatkan pos ronda. Walaupun tiap malam tidak ada yang tugas meronda, mengingat kalau malam mereka pada sibuk kerja.

Pembangunan di kampung ini berjalan pesat, jalan-jalan mulus, sarana dan prasarana ada. Rumah-rumah berdiri dengan megah dan mewah. Di kampung maling juga ada susunan kepengurusan seperti Ketua RW dan ketua RT, ada permasalahan selalu dilaporkan kepada ketua RW, maklumlah jabatan tertinggi di kampung. Yang pasti laporannya tidak masalah kehilangan barang-barang. Karena di kampung ini kehilangan, merupakan hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Toh para warga kampung maling juga akan berkata : "tak apa-apa hilang, lha wong juga barang malingan, besok juga pasti aku maling lagi."

Walaupun keseharian warga kampung maling kehilangan merupakan hal yang wajar, mereka dapat hidup rukun, tidak ada percekcokan di antara mereka. Jika ada sedikit konflik dan untuk menyeragamkan program kerja di kampung, maka segeralah dibuat Rakormal (Rapat Koordinasi Maling)

Kalau ada maling di kampung maling pas malingnya ketahuan pemilik rumah, paling orang pemilik rumah berkata, "lha lagi maling ya? Jangan maling di sini dong, saya kan juga maling. Kalau maling di sana tuh di kampung lain." Tak jarang mereka terlibat obrolan yang akrab. Malahan mereka bisa saling tukar menukar informasi. Mana pedagang yang mau membeli barang hasil curian dengan harga tinggi. Tak jarang malah disuguhi minum oleh si pemilik rumah. "Eh tau tidak gelas ini juga maling lho...airnya juga maling, gulanya juga maling semuanya deh, namanya kan juga kampung maling"

Jika ada petugas yang berwajib datang, seperti KPM (Komisi Pemberantasan Maling) mereka akan saling menyembunyikan satu sama lain. Saling melindungi agar tidak ketahuan. Ketahuan satu, akan ikut menyeret seluruh warga kampung maling. Lha KPM, ini takut dengan ketua RW, maklumlah seorang yang sangat berkuasa. Berani melawan dia? Sama dengan "END"

Tetapi ada yang berbeda, jika ada maling baru yang masih phah-phoh yang ketauan lagi maling di rumah ketua RW di kampung maling. Tentu teriakan maling ketua RW akan segera direspon warga kampung maling dengan memukuli beramai-ramai. Bagaimanapun juga jabatan bos maling akan membuat orang-orang segan dan menghormatinya. Orang yang lagi kepepetlah yang berani maling di rumah bosnya maling.
Dan teriakan maling di rumah ketua RW, tentu akan disaut warga maling dengan berkata : "wah dasar maling tak tau diri, sana enyah dan pergi jauh-jauh dari kampung maling, kalau bisa pergi ke luar negeri dan tak usah kembali lagi" :)
-siGal-

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti