ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Wednesday, August 3, 2011

Goresan tinta kehidupan

Goresan apa yang akan tertulis di hari ini?
Sebuah goresan yang tegas?
Ataukah goresan yang samar-samar?

Sebuah goresan yang akan membentuk sebuah untaian kata.
Untaian kata pemberi semangatkah?
Atau justru untaian kata yang melemahkan semangat?

Goresan di atas selembar kertas kehidupan.
Selembar kertas yang siap untuk diberi warna hari ini.
Warna cerahkah hari ini?
Atau warna kelamkah?

Cobalah tengok sebentar. Warna apakah yang sudah kita tuangkan dalam lembar kehidupan ini?
Apakah warna cerah yang lebih dominan?
Atau yang terlihat hanya warna kelam menenggelamkan warna cerah?

Sebuah goresan tinta yang terlanjur tertuang.
Yang tak mungkin dapat ditarik lagi.
Selalu meninggalkan bekas yang tersisa.

Sebuah goresan tinta yang siap dituliskan di hari ini.
Sang Pencipta pena dengan senantiasa membimbing.
Membimbing untuk terus belajar, belajar dan belajar menulis.
Belajar untuk selalu membuat goresan tinta kehidupan yang indah.

Terkadang kita ingin melepaskan diri, jika goresan yang tertulis indah dan bagus.
Percaya bahwa diri kita mampu menuliskan goresan tanpa bantuanNya.
Tetapi jika goresan yang tertuang banyak sekali coretan, warna yang terlihat hanya kelam.
Kita hanya bisa berpasrah.

Tak ada yang sempurna dalam sebuah goresan kehidupan.
Selalu ada noda yang tercecer.
Selalu ada warna yang tak perlu.
Semuanya tak akan terhapus dengan sempurna.
Kecuali oleh kebaikan hatiNya dan kerahimanNya yang mau menerima lembar kehidupan kita yang penuh noda.

Goresan tinta kehidupan yang terus kita lukis hari demi hari.
Sampai titik mengakhiri sebuah lembar kehidupan.
Hingga akhirnya lembar kehidupan itu tergulung rapi.
Tergulung dan di bawa lagi oleh Sang Pemilik Utama.
-siGal-

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti