ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Tuesday, August 9, 2011

Siapakah sesamaku di jaman ini?

Dapatkah kita menjawab pertanyaan dengan tulus dan jujur, "Siapakah sesamaku, di jaman ini?" Jaman di mana manusia semakin mudah dikotak-kotakan, banyak sekat-sekat yang terbentuk oleh manusia itu sendiri. Sekat-sekat yang mengatas namakan suku, agama, ras, golongan, kedudukan sosial, sangat mudah terbentuk di jaman ini. Munculnya berbagai macam organisasi masyarakat yang mengatas namakan agama, kedaerahan, politik, kedudukan sosial masyarakat bagaikan sebuah jajanan. Kamu tertarik silahkan gabung, tidak tertarik silahkan pilih yang lain.

Dampak positif munculnya berbagai macam organisasi kemasyarakatan perlu diapresiasi sebagai perwujudan iklim demokrasi. Hak untuk mengungkapkan pendapat, menyalurkan ekspresi, bakat dan kemampuan serta mendapatkan pengalaman berorganisasi serta teman merupakan salah satu dampak positifnya.

Tetapi apa jadinya jika organisasi yang terbentuk, justru semakin membuat jurang pemisah yang dalam. Semakin banyak tembok-tembok tinggi yang dibangun. Tak ada kematangan dan kedewasaan dalam berorganisasi, akibatnya gara-gara hal sepele mudah dipecah belah. Tengoklah tawuran di ibukota yang hanya dipicu masalah sepele saling ejek lalu meletuslah tawuran antar pemuda kampung.
Organisasi masa yang saling berebut lahan parkir juga kerap terjadi. Dan masih banyak hal lain yang dari dulu sampai sekarang masih terjadi. Perpecahan yang timbul dari hal yang kecil, lantas meluas dikarenakan adanya benturan dua kelompok.

Pertikaian yang mudah terjadi, tak peduli kalangan intelektual seperti tawuran mahasiswa juga masih ada, adu mulut bahkan sampai adu pukul para politisi juga terjadi. Tawuran pelajar, suporter masih kerap terjadi. Semua didasari demi membela harga diri kelompok. Dan mengesampingkan harga diri sebagai sesama manusia. Harusnya dengan organisasi/kelompok yang terbentuk dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, tetapi malah dijadikan tempat untuk menggalang masa dan membalas. Bukannya menjadi penghubung dan mengingatkan bahwa mereka juga sesama kita, justru malah mengatakan lawan mereka, itu musuh kita.

Jika ditanya siapakah sesamaku manusia? Orang bisa lama menjawabnya.
Tetapi jika ditanya, siapakah sesamaku pada masing-masing ormas yang terbentuk? Tentu akan mudah dijawab dengan cepat, aku, kamu serta semua yang ada di organisasi ini kita semua saudara dan sesamaku.
Lantas siapakah sesamaku itu, jika terjadi sebuah perselisihan antar kelompok?
Makna sesama manusia yang semakin lama dirasa semakin sempit. Sebuah refleksi bagi kita, "Aku dapat menjadi apa bagi sesamaku?"
Mau menjadi seperti jembatankah yang mau mendekatkan jika terjadi perselisihan atau justru mau menambah jurang pemisah yang semakin dalam?
-siGal-

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti