ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Thursday, November 17, 2011

Rejeki itu memang sudah ada yang mengatur

"Rongsokan-rongsokan, rongsokan né mas...," suara seorang ibu-ibu tua keliling dari pintu rumah satu ke pintu rumah yang lain. Berharap mendapat barang-barang bekas yang mau dijual oleh pemilik rumah. Dengan menenteng karung goni, berjalan tak kunjung lelah, sambil terus berteriak-teriak. Aku berpikir, hampir setiap hari ada saja orang yang berkeliling mencari barang-barang bekas, apa mungkin ibu ini akan mendapat barang-barang bekas di kampung ini? Eits...tunggu dulu, rejeki memang sudah ada yang mengatur setiap hari. Pikiran manusia memang tak mungkin, namun campur tangan Dia tentu sungguh luar biasa. Seperti burung yang setiap hari tak menabur, namun ia selalu menuai, selalu dikenyangkan. Rejeki juga dapat dibayangkan seperti lalu lalang kendaraan umum yang mengangkut penumpang. Dalam satu jalur bus kota tentu terdiri dari puluhan kendaraan yang lewat di jalur yang sama. Namun bisa dilihat setiap kendaraan umum yang lewat selalu ada penumpangnya. Lagi-lagi semua yang berkaitan tentang rejeki sudah ada yang mengatur.

Walaupun rejeki sudah ada yang mengatur, namun lihatlah ada kesamaan dari ketiga peristiwa diatas. Semuanya berusaha, semua beranjak, bergerak, bekerja, mengeluarkan keringat untuk mendapatkan rejeki. Tak ada kata bermalas-malasan berharap ada rejeki yang jatuh tiba-tiba dari langit. Selama masih muda, bergerak, berkarya dan bekerjalah dengan giat. Maka jangan lupa untuk mengawali aktivitas setiap hari dengan berdoa. "Berilah rejeki kami pada hari ini."
Photobucket

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti