ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Friday, December 14, 2012

belajar menghargai hidup

Suatu hari sang guru menyuruh pembantunya untuk membersihkan daun-daun kering yang jatuh di atap kamar sang guru. Maklumlah samping kamar sang guru terdapat pohon mangga yang cukup besar. Jika tak dibersihkan tumpukan daun-daun kering tersebut jika kena air hujan dapat menyebabkan eternit rumah roboh.

 Mendengar sang guru, pembantu itupun lalu bergegas membersihkan atap kamar sang guru. Saat membersihkan kumpulan daun-daun kering yang banyak, matanya memandang salah satu cabang pohon mangga yang menyebabkan daun-daun jatuh tepat di atas kamar sang guru. Tanpa pikir panjang, pembantu itu memanjat pohon mangga dan memotong cabang pohon mangga yang membuat kotoran di atap kamar sang guru.

Sepulang dari berpergian sang guru, memanggil pembantunya. Sang guru marah besar. Ia berkata, 'siapa yang menyuruh kamu memotong cabang pohon mangga itu? Tak tahukan berapa lama pohon mangga itu membutuhkan waktu untuk menumbuhkan cabang. Namun dengan mudahnya kamu memotong dan membuangnya. Ayo sekarang cari potongan pohon mangga itu dan kamu sambung lagi.' Lalu dicarinya cabang pohon mangga yang telah dibuangnya untuk kembali disambung pakai tali.

 Selang beberapa hari cabang pohon mangga yang telah disambungnya menjadi kering dan mati. Sang guru lalu memangil pembantunya. Lihat apa akibatnya jika kamu dengan seenaknya sendiri main potong dan main buang sendiri. Apa yang kamu pikirkan benar, ternyata justru membunuh cabang dari pohon itu. Hargailah arti kehidupan. Jika seseorang pernah berbuat salah, jangan lalu orang itu dibuang dan disingkirkan seperti halnya kamu membuang cabang pohon mangga.

No comments:

Total Pageviews

Persembahan Hati

Mentega dengan Roti